Ruteng, Gendang Gelarang Weol, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, menggelar ritus adat pande manuk cako reke pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, pukul 17.00 Wita. Ritus ini merupakan tahap awal rangkaian persiapan menuju perhelatan adat besar congko lokap yang akan berlangsung pada 22 Agustus 2026.
Prosesi cako reke dalam adat Manggarai lazim dimaknai sebagai tahap “membuka pintu” kepada leluhur dan komunitas adat, menandai dimulainya rangkaian persiapan menuju sebuah perayaan adat besar. Dalam konteks Gendang Weol, ritus ini menjadi penanda resmi dimulainya seluruh tahapan menuju puncak acara congko lokap pada penghujung Agustus mendatang.
Berdasarkan susunan yang disampaikan oleh pihak Gendang Weol, rangkaian congko lokap akan berlangsung selama empat hari, mulai 19 hingga 22 Agustus 2026, dengan susunan :
19–20 Agustus 2026: Pergelaran tari Caci, tarian perang tradisional khas Manggarai yang dimainkan sepasang penari laki-laki menggunakan cambuk (larik) dan perisai (nggiling). 21 Agustus 2026: Prosesi Sae.
22 Agustus 2026: Puncak acara congko lokap.
Ritus adat ini dilaksanakan oleh tiga panga Gendang Weol, yakni Mongko, ema lapis, dan Turuk. Ketiga panga ini menjadi motor penggerak sekaligus penanggung jawab utama seluruh rangkaian acara adat yang akan digelar.
Ritus pande manuk cako reke turut dihadiri oleh sejumlah tua adat dari gendang-gendang lain, yang secara historis merupakan bagian dari pembagian anak gendang keturunan Gendang Weol. Turut hadir antara lain Tua Adat Gendang Rai, Tua Adat Gendang Cara, dan Tua Adat Gendang Cancar. Kehadiran para tua adat dari gendang-gendang tersebut menegaskan ikatan dan garis keturunan adat yang masih terjaga hingga kini.
Nama Weol sendiri memiliki akar sejarah yang cukup dalam pada masa kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal di Manggarai sebelum era kolonial Belanda. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa nama Weol pernah dipakai sebagai penanda dua pertempuran besar antara dua kerajaan Manggarai, Nggaeng Cibal dan Adak Todo, yang dikenal dengan sebutan Perang Weol I dan Perang Weol II. Pada Perang Weol I, kemenangan berpihak pada Cibal, sedangkan pada Perang Weol II giliran Todo yang unggul, sehingga wilayah kekuasaan Todo meluas hingga mendekati Beo Kina di Rahong Utara.
Congko lokap dikenal sebagai salah satu bentuk perhelatan adat besar dalam tradisi Manggarai, yang umumnya melibatkan rangkaian ritual syukur, pergelaran tari Caci, serta prosesi adat lain yang melibatkan seluruh komunitas gendang. Pelibatan tari Caci dalam rangkaian ini menegaskan posisi tarian tersebut bukan sekadar tontonan budaya, melainkan bagian dari ritual sakral seperti congko lokap.
Penulis: MA