Teluk Kuantan – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang akan digelar pada 26 Juni – 3 Juli 2026 mendapat sorotan tajam dari sejumlah kalangan. Salah satunya datang dari tokoh muda Riau yang menilai penyelenggaraan MTQ tahun ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan koordinasi, sehingga mengurangi marwah perhelatan keagamaan terbesar di Provinsi Riau tersebut.
Syafiq Nabil Ma’ruf Tokoh Muda Riau Asal Kuantan Singingi, selaku Wakil Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau (HIPEMARI)-Jakarta. Menurutnya, salah satu indikator paling nyata dari kurang matangnya persiapan adalah kondisi Astaka Utama MTQ yang hingga H-3 sebelum pembukaan masih belum rampung sepenuhnya. Padahal, astaka utama merupakan ikon sekaligus pusat kegiatan yang menjadi perhatian masyarakat, tamu undangan, dan kafilah dari seluruh kabupaten/kota di Riau.
“Keterlambatan penyelesaian astaka utama menunjukkan bahwa persiapan dari pemerintah tidak dilakukan secara optimal. Sebuah event tingkat provinsi yang telah direncanakan jauh hari seharusnya memiliki manajemen waktu yang lebih baik agar tidak menimbulkan kesan tergesa-gesa menjelang pelaksanaan,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar persoalan fisik bangunan, melainkan mencerminkan kualitas tata kelola penyelenggaraan secara keseluruhan. Sebagai tuan rumah, Kuansing seharusnya mampu menampilkan kesiapan terbaik dalam menyambut ribuan peserta dan tamu yang hadir.
Selain itu, ia juga menyoroti keputusan pemerintah daerah yang dinilai terlalu ambisius dengan menggelar Pacu Jalur Rayon II pada waktu yang berdekatan bahkan bersamaan dengan pelaksanaan MTQ Provinsi Riau.
Menurutnya, kedua agenda tersebut merupakan ikon penting Kabupaten Kuantan Singingi yang sama-sama memiliki nilai strategis. Namun, pelaksanaan secara bersamaan justru berpotensi memecah fokus, sumber daya, perhatian publik, hingga konsentrasi pemerintah daerah dalam menyukseskan masing-masing kegiatan.
“Perhelatan MTQ Provisni dan Pacu Jalur adalah dua Agenda yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Riau khususnya masyarakat Kuansing. Namun keduanya memiliki nilai dan esensi yang berbeda, MTQ membawa misi syiar Islam dan pembinaan generasi Qur’ani, sementara Pacu Jalur merupakan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Kuantan Singingi. Ketika keduanya dipaksakan berlangsung dalam waktu yang sama, maka yang terjadi adalah tumpang tindih perhatian dan berkurangnya kualitas pelaksanaan masing-masing kegiatan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai kebijakan tersebut menunjukkan adanya ambisi besar yang tidak diiringi dengan perencanaan yang terorganisir secara matang. Akibatnya, potensi maksimal dari kedua perhelatan tidak dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.
Menurutnya, MTQ seharusnya menjadi ruang yang khidmat untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat, sedangkan Pacu Jalur perlu mendapatkan ruang yang cukup untuk menampilkan kekayaan budaya lokal secara utuh. Apabila keduanya dilaksanakan secara bersamaan, maka esensi dan pesan yang ingin disampaikan dari masing-masing kegiatan berisiko berkurang.
“Jangan sampai semangat mengejar banyak agenda dalam satu waktu justru mengurangi kualitas agenda itu sendiri. MTQ kehilangan kekhidmatannya, sementara Pacu Jalur kehilangan momentum budayanya. Padahal keduanya adalah aset besar daerah yang seharusnya dikelola dengan perencanaan yang matang dan terukur,” tegasnya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kerja keras panitia, relawan, dan masyarakat yang telah berupaya menyukseskan penyelenggaraan MTQ maupun Pacu Jalur. Namun menurutnya, evaluasi menyeluruh tetap harus dilakukan agar perencanaan kegiatan berskala besar di masa mendatang dapat berjalan lebih efektif dan profesional.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, LPTQ Provinsi Riau, serta seluruh pihak terkait dapat menjadikan berbagai catatan tersebut sebagai bahan introspeksi bersama.
“Kritik ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memastikan bahwa agenda-agenda besar daerah dapat dilaksanakan dengan kualitas terbaik. Kuansing memiliki potensi besar, namun potensi tersebut harus didukung oleh perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, dan kemampuan menentukan prioritas secara tepat,” pungkasnya.