Ruteng, selidikkasus – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, benar-benar meluluhlantakkan wajah Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Data identifikasi desa terdampak bencana yang dihimpun tim selidikkasus dari laporan Tim Pendata dan Pelapor (TPP) di lapangan menunjukkan, tidak kurang dari 18 desa di kecamatan ini luluh lantak diguncang gempa, meninggalkan rumah-rumah warga rata dengan tanah, sekolah dan puskesmas lumpuh, serta ribuan keluarga terpaksa hidup di tenda-tenda pengungsian hingga hari ini.
Rekapitulasi data yang berhasil dihimpun menunjukkan sedikitnya 3.979 kepala keluarga atau setara 17.495 jiwa di Kecamatan Ruteng terdampak langsung oleh bencana ini. Dari jumlah tersebut, 15.218 orang di antaranya harus meninggalkan rumah dan mengungsi, sementara 107 warga tercatat mengalami luka-luka akibat reruntuhan bangunan maupun panik saat gempa terjadi. Sejauh ini, data tingkat desa yang dihimpun tidak mencatat adanya korban jiwa yang meninggal dunia khusus di Kecamatan Ruteng.
Camat Ruteng, Sebastianus Jandu, S.Pt, dalam wawancara langsung oleh media selidikkasus 30/08/2026 membenarkan bahwa wilayahnya termasuk salah satu yang terparah terdampak meski letaknya jauh dari garis pantai. Ia bersama jajarannya turun langsung meninjau dan mendata kerusakan rumah warga di sejumlah desa dan kelurahan yang dipimpinnya sejak hari-hari pertama pascagempa. “Hari ini kami sedang menginventarisir kerugian materi khususnya berupa kerusakan rumah warga yang diakibatkan oleh gempa untuk diteruskan ke pemerintah kabupaten,” ujar Sebastianus. Ia menambahkan, meski guncangan yang dirasakan cukup besar, wilayahnya beruntung tidak menimbulkan korban jiwa.
Kerusakan fisik akibat gempa ini pun tak main-main. Sebanyak 778 unit rumah warga mengalami rusak berat dan 2.157 unit lainnya rusak ringan, sehingga total ada 2.935 unit rumah yang porak-poranda. Desa Bea Kakor mencatatkan kerusakan terparah dengan 106 unit rumah rusak berat, disusul Desa Kakor dengan 86 unit, Desa Bulan dengan 77 unit, Desa Beo Rahong dengan 68 unit, dan Desa Meler dengan 59 unit rumah rusak berat. Desa Bulan sekaligus tercatat sebagai desa dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 2.357 jiwa, disusul Desa Beo Rahong dengan 2.920 jiwa pengungsi dan sekaligus korban luka-luka terbanyak di kecamatan ini, yakni 15 orang. Desa Golo Worok turut mencatatkan angka pengungsi yang tak kalah besar, mencapai 2.120 jiwa.
Bencana ini bukan hanya meruntuhkan rumah, tetapi juga melumpuhkan layanan dasar bagi warga. Jaringan listrik dilaporkan terputus di Desa Golo Worok, Belang Turi, Poco Likang, Bea Kakor, dan Pong Lale. Sejumlah jembatan penghubung antarkampung juga putus di Desa Bulan, Beo Rahong, Belang Turi, dan Pong Lale, membuat akses bantuan dan evakuasi warga menjadi semakin sulit. Layanan kesehatan pun ikut terhenti di beberapa titik, dengan dampak paling parah dirasakan warga Desa Rai, di mana 600 orang kehilangan akses layanan kesehatan, disusul Desa Bangka Lao dengan 457 warga terdampak. Fasilitas pendidikan tak luput dari amukan gempa puluhan unit sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, hingga pendidikan anak usia dini dilaporkan rusak dan tak bisa lagi digunakan, dengan Desa Bulan mencatatkan kerusakan pendidikan terparah: dua unit SD, satu SMP, dua SMA/SMK, dan dua PAUD sekaligus kehilangan fungsi.
Penulis/Editor: MA