Caci Hari Pertama Warnai Congko Lokap Gendang Gelarang Weol, Momentum Rekatkan Weki Ame Weki Ine

 

 

Ruteng, Selidikkasus.com – Kampung Weol, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, riuh oleh sorak ase kae dan denting gong-gendang, Rabu (19/08/2026). Momenetum hari pertama tarian Caci dalam rangkaian upacara adat Congko Lokap Gendang Gelarang Weol, ritus adat Manggarai yang digelar sebagai tanda syukur atas rampungnya pembangunan rumah adat sekaligus peresmiannya sebagai tempat bernaung gendang, simbol kekuasaan atas tanah ulayat leluhur.

 

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Panitia, Konstan Damat, SE, didampingi Sekretaris Panitia Paskalis Gonggas, S.Pd, dan Seksi Humas Protokol Hendrikus Depok, S.Pd. Berjalannya laga Caci pada hari pertama ini dikawal langsung oleh Koordinator Caci, Maksimus Terima, SP, putra asli Gendang Gelarang Weol. Sementara itu, weki landang atau pihak tamu yang menjadi lawan tanding dalam laga Caci datang dari Kampung Poreng, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai.

 

Prosesi pembukaan turut diramaikan dengan tradisi paki reis, di mana para tamu undangan kehormatan ambil bagian dalam barisan penyambutan. Camat Ruteng, Sebastianus Jandu, S.Pt, hadir mewakili unsur pemerintah kecamatan, sementara dari unsur legislatif hadir Anggota DPRD Manggarai dari Daerah Pemilihan Kecamatan Ruteng–Lelak, Yanto Nahat, SM, yang turut mengambil bagian dalam paki reis tersebut.

 

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Konstan Damat menegaskan bahwa esensi tarian Caci bukan untuk memperlihatkan permusuhan antarkampung. Ia mengajak seluruh warga yang hadir untuk memaknai Caci sebagai seni tari warisan leluhur yang perlu dijaga dan diwariskan, bukan sebagai ajang menumbuhkan dendam maupun rivalitas antarweki.

 

Semangat itu sejalan dengan makna Congko Lokap dalam tradisi Manggarai secara umum. Congko berarti memungut, sedangkan Lokap merujuk pada sisa-sisa material kayu dan kotoran dari proses pembangunan rumah adat, yang dalam pemaknaan budaya juga melambangkan perilaku kurang baik yang perlu dibersihkan. Upacara ini dengan demikian dimaknai sebagai proses membersihkan rumah adat dari segala kotoran agar layak dihuni manusia dan layak pula digantungi gendang sebagai simbol kekuasaan atas tanah ulayat. Tarian Caci sendiri dikenal luas sebagai tarian perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung menggunakan cambuk dan perisai, dan lazim ditampilkan untuk memeriahkan puncak ritus Congko Lokap di kampung-kampung adat Manggarai.

 

Rumah adat Gendang Gelarang Weol dihuni oleh tiga panga (rumpun keturunan) yang hingga kini menjaga garis leluhur mereka. Panga pertama berasal dari keturunan Ema Lapis Ame Japi, dengan tua adat Bernadus Berahi, Maksimus Kaben, dan Domi Jelalu. Panga kedua merupakan keturunan Mbahang Ame Agang, dengan tua adat Lorens Pantur dan Daniel Jemada. Sementara panga ketiga, keturunan Mikael Adas dari garis Turung, diwakili oleh tua adat Yosep Boga, Frans Pahat, dan Rofinus Ndundu.

 

Gelarang Weol sendiri berkedudukan sebagai gelarang induk yang berpusat di Kampung Weol, Cancar, Kecamatan Ruteng. Dari gelarang induk ini bernaung sejumlah anak gendang, yakni Gendang Rai Weol, Gendang Cara, Gendang Cancar, dan Gendang Ndung. Jejak turunan Gelarang Weol pun tersebar hingga ke wilayah Cibal, dan Rahong Utara, menjadikannya salah satu simpul kekerabatan adat yang cukup luas di jantung Manggarai.

 

Rangkaian Caci di Gendang Gelarang Weol ini menjadi bagian dari deretan ritus Congko Lokap yang belakangan marak digelar di berbagai kampung adat Manggarai, seiring program revitalisasi rumah gendang yang juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Manggarai. Warga berharap tradisi ini terus lestari, merekatkan tali kekeluargaan antarweki, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

 

 

Penulis/Editor: MA