Stunting Riau Turun, Kehadiran MBG Jadi Penguat Percepatan Penanganan Gizi Anak

 

 

Pekanbaru – Upaya menekan angka stunting di Provinsi Riau menunjukkan hasil yang semakin nyata sejak berbagai intervensi gizi diperkuat, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan secara bertahap sejak awal 2025. Program nasional yang digagas untuk memperkuat pemenuhan gizi anak, ibu hamil, dan kelompok rentan ini dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting di daerah.

 

Berdasarkan data “Stunting dalam Angka Provinsi Riau”, prevalensi stunting di Riau pada tahun 2024 tercatat sebesar 20,1 persen. Jika dibandingkan dengan baseline tahun 2018 yang berada di angka 27,4 persen, terjadi penurunan kumulatif sebesar 7,3 poin persentase dalam enam tahun terakhir. Pemerintah Provinsi Riau pun menargetkan angka tersebut terus ditekan hingga mencapai 17 persen pada tahun 2026. (Tim Percepatan Penurunan Stunting)

 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menegaskan bahwa target tersebut telah masuk dalam RPJMD Provinsi Riau 2025–2029 dan menjadi bagian dari komitmen pembangunan kesehatan daerah.

 

“Berdasarkan hasil SSGI 2024, angka stunting kita berada di 20,1 persen. Targetnya, pada 2026 harus turun menjadi 17 persen,” ujarnya di Pekanbaru. (Antara News Riau)

 

Program MBG dinilai memberi dampak signifikan karena menyasar langsung pemenuhan gizi harian anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Dengan akses makanan bergizi yang lebih merata, risiko kekurangan gizi kronis yang menjadi penyebab utama stunting dapat ditekan lebih awal.

 

Selain itu, MBG juga memperkuat edukasi gizi di tingkat keluarga. Banyak daerah di Riau mulai mengintegrasikan program dapur sehat, posyandu aktif, serta pengawasan tumbuh kembang anak dengan dukungan distribusi makanan bergizi yang lebih terstruktur.

 

Pada 2025, pemerintah sempat mewaspadai potensi kenaikan angka stunting hingga menyentuh 20 persen akibat rendahnya partisipasi posyandu dan lemahnya pemantauan bayi usia 0–36 bulan. Namun respons cepat pemerintah melalui penguatan layanan kesehatan dasar, peningkatan kehadiran bayi ke posyandu, serta sinergi dengan program MBG menjadi langkah strategis untuk menahan lonjakan tersebut. (BPK Riau)

 

Dokumen nasional juga mencatat bahwa sekitar 129.349 balita di Riau masih berada dalam status stunting, sehingga intervensi berkelanjutan tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah menilai penanganan tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga melalui akses pangan bergizi, sanitasi, edukasi keluarga, dan penghapusan stigma sosial terhadap anak stunting. (Tim Percepatan Penurunan Stunting)

 

Guru Besar Gizi Masyarakat Poltekkes Kemenkes Riau, Aslis Wirda Hayati, menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih humanis dalam penanganan stunting. Menurutnya, stigma negatif terhadap anak stunting sering membuat keluarga enggan datang ke posyandu sehingga menghambat proses pemulihan.

 

Karena itu, kehadiran MBG bukan hanya soal pembagian makanan, tetapi menjadi simbol hadirnya negara dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat, kuat, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

 

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Riau, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat, target penurunan stunting menuju 17 persen pada 2026 bukan hal yang mustahil. MBG menjadi salah satu bukti bahwa investasi pada gizi anak hari ini adalah pondasi bagi kualitas generasi Riau di masa depan.