Hindari Hiperbola: Jangan Melebih-lebihkan yang Justru Merusak Kredibilitas

 

Penulis: Marsel Ahang SH
_(Advokat LBH Nusa Komodo Manggarai)_

Dalam momentum Hari Pers Nasional, sudah sepatutnya kita berefleksi tentang salah satu tantangan terbesar jurnalisme modern: kecenderungan menggunakan hiperbola atau pernyataan yang berlebihan dalam pemberitaan. Praktik ini, yang sering kali dilakukan demi menarik perhatian pembaca, justru menggerogoti kredibilitas pers itu sendiri.

Ketika Berita Menjadi Drama

Di era digital yang serba cepat ini, persaingan untuk mendapatkan klik dan perhatian audiens semakin ketat. Akibatnya, tidak sedikit media yang terjebak dalam permainan hiperbola. Judul-judul bombastis bermunculan: “menggemparkan”, “menghebohkan”, padahal faktanya hanya peristiwa biasa yang dikemas secara berlebihan.

Penggunaan kata-kata seperti “terbesar sepanjang masa”, “yang paling mengerikan”, atau “kehancuran total” untuk menggambarkan situasi yang sebenarnya tidak sedramatis itu, telah menjadi kebiasaan buruk yang mengkhawatirkan. Pers seolah berlomba menciptakan sensasi, bukan menyajikan informasi yang akurat dan berimbang.

Dampak yang Tidak Ringan

Hiperbola dalam jurnalisme membawa konsekuensi serius. Pertama, masyarakat menjadi kehilangan kepercayaan terhadap media. Ketika pembaca merasa dibohongi oleh judul yang tidak sesuai dengan isi berita, mereka akan berpikir dua kali sebelum mempercayai informasi dari sumber yang sama.

Kedua, hiperbola menciptakan kelelahan informasi. Masyarakat menjadi kebal terhadap berita penting karena terlalu sering disuguhi “berita besar” yang ternyata tidak sebesar yang dijanjikan. Ketika krisis sesungguhnya terjadi, peringatan dari media tidak lagi dianggap serius.

Ketiga, praktik ini menurunkan standar jurnalisme secara keseluruhan. Media yang masih berusaha objektif dan proporsional malah dianggap “membosankan” karena kalah menarik dibanding media yang suka berlebihan.

Kritik terhadap Kinerja Pers Kita

Jika kita jujur mengevaluasi kinerja pers nasional, ada beberapa catatan penting yang perlu disampaikan:
Pertama, verifikasi yang terburu-buru.Terlalu banyak berita yang dipublikasikan tanpa pengecekan fakta yang memadai, hanya karena takut kalah cepat dengan media lain. Kecepatan mengungguli akurasi, padahal kredibilitas dibangun dari ketelitian, bukan kecepatan.

Kedua, ketergantungan pada sumber tunggal. Banyak pemberitaan yang hanya mengandalkan satu narasumber atau satu sudut pandang, kemudian dikemas seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Prinsip cover both sides sering diabaikan demi efisiensi waktu dan biaya.

Ketiga, clickbait sebagai strategi utama. Judul yang menyesatkan atau tidak merepresentasikan isi berita sudah menjadi praktik umum. Ini bukan hanya soal hiperbola, tetapi juga manipulasi informasi yang merugikan masyarakat.

Keempat, kurangnya investigasi mendalam. Di tengah tuntutan produksi konten yang masif, jurnalisme investigatif yang membutuhkan waktu dan sumber daya besar semakin jarang dilakukan. Padahal, fungsi pengawasan pers terhadap kekuasaan justru terletak pada kemampuan investigasi yang tajam.

Kelima, lemahnya literasi media internal. Ironisnya, tidak sedikit jurnalis sendiri yang kurang memahami dampak dari penggunaan bahasa yang berlebihan atau bias dalam peliputan mereka.

Jalan Keluar yang Konstruktif

Situasi ini bukan tanpa solusi. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

Kembali ke prinsip dasar jurnalisme. Akurat, berimbang, dan proporsional harus menjadi pedoman utama, bukan jumlah klik atau viewer. Media perlu berani mengambil posisi bahwa kredibilitas jangka panjang lebih berharga daripada popularitas sesaat.

Investasi pada pendidikan jurnalis. Pelatihan berkala tentang etika jurnalistik, verifikasi fakta, dan bahaya hiperbola harus terus dilakukan. Generasi muda jurnalis perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang tanggung jawab sosial profesi mereka.

Penguatan mekanisme pengawasan internal. Setiap media harus memiliki editor yang berani memangkas kalimat berlebihan dan menolak judul yang menyesatkan, meski itu berarti kehilangan potensi klik.

Edukasi masyarakat. Literasi media di kalangan pembaca juga perlu ditingkatkan agar mereka bisa lebih kritis dalam menyaring informasi. Masyarakat yang cerdas akan mendorong media untuk lebih berkualitas.

Apresiasi untuk jurnalisme berkualitas. Pembaca perlu mendukung media yang konsisten menyajikan berita berimbang, meski tidak sensasional. Dukungan bisa berupa langganan berbayar atau sekadar share konten berkualitas.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi, bukan hanya perayaan. Pers memiliki peran vital dalam demokrasi: sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya, pengawas kekuasaan, dan jembatan antara pemerintah dengan rakyat. Peran ini hanya bisa dijalankan dengan baik jika kredibilitas tetap terjaga.

Hiperbola mungkin memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan menghancurkan kepercayaan publik. Saatnya pers Indonesia memilih: mau dikenang sebagai pemberi informasi yang dapat dipercaya, atau sekadar mesin pencetak sensasi yang mudah dilupakan?

Kredibilitas adalah aset paling berharga bagi jurnalis dan media. Sekali hilang, sangat sulit untuk mendapatkannya kembali. Mari kita jaga bersama dengan kembali pada prinsip dasar: sampaikan fakta apa adanya, tanpa tambahan bumbu yang tidak perlu.

Selamat Hari Pers Nasional. Semoga pers Indonesia semakin dewasa, profesional, dan dipercaya masyarakat.