Tak Perlu ada Buzzers di Sepak Bola, beda Pendapat diperlukan sebagai Bentuk Kepedulian,Kecintaan Terhadap Coach Shin Tae-Yong & Timnas Indonesia Agar Lebih Baik

 

Jakarta-Shin Tae-yong, langsung menjadi pusat perhatian setelah Timnas Indonesia mengalami kegagalan di Piala AFF 2024, Tim Merah-Putih tidak dapat berbuat banyak dalam babak penyisihan grup. Tidak bisa dipungkiri pencapaian Timnas Indonesia di Piala AFF 2024 memang mengecewakan jika dilihat dari hasil akhir. Namun, kebijakan PSSI dan Shin Tae-yonh yang memilih untuk menurunkan pemain muda berusia di bawah 22 tahun patut dipahami sebagai bagian dari strategi pengembangan jangka panjang.

Menyikapi hal tersebut , Tim Advokasi Peduli Sepakbola Indonesia (TAPSI) memberikan tanggapannya terkait isu yang berkembang di kalangan publik sepak bola Indonesia mengenai desakan untuk memecat Shin Tae-Yong karena kegagalannya di Piala AFF 2024 dan berharap PSSI memberikan kesempatan kepada Shin Tae-yong untuk menyelesaikan tugasnya sebelum mengambil keputusan yang drastis, TAPSI menekankan bahwa hasil yang didapat dalam kualifikasi mendatang akan menjadi penentu sejauh mana kemampuan pelatih asal Korea Selatan itu dalam memimpin tim, terlebih STY sudah banyak memberikan prestasi untuk Tim Nasional Indonesia antara lain membawa Timnas Senior lolos ke 16 besar Piala Asia 2024, membawa Timnas Senior lolos ke Ronde 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026, membawa Timnas U-23 lolos ke semifinal Piala Asia 2024, dan membawa Timnas Indonesia naik ranking 127 Fifa.

Terlepas dari banyaknya Prestasi namun Kegagalanlah yang biasanya lebih banyak disorot dan pastinya menimbulkan adanya kritikan dari beberapa Pengamat agar Sepakbola Indonesia di tangan STY bisa lebih baik lagi. Hal ini memicu banyaknya Perbedaan Pendapat di kalangan Supporter Tim Nasional Indonesia, ada yang berpendapat bahwa STY hanya terbantu oleh kualitas pemain sehingga tidak layak dipertahankan lalu digantikan oleh pelatih asing lain dan ada juga yang berpendapat bahwa STY wajib dipertahankn dan didukunh karena telah membangun Sepakbola Timnas kita dari “minus”.

Dibalik perbedaan pendapat tersebut, namun yang sangat disayangkan respon dan tindakan dari beberapa pendukung STY yang cenderung tidak terima apabila ada Pengamat Sepakbola yang mengkritik kinerja dari STY, seringkali Pengamat yang melakukan kritik tersebut diserang secara masif dengan komentar negatif dan bersifat hujatan di akun media sosialnya, bahkan beberapa pengamat yang melontarkan kritik tersebut sampai dilacak data pribadinya!

Hal ini sangat miris mengingat Negara kita adalah Negara Demokrasi, manakala inti daripada berdemokrasi itu adalah menghargai adanya perbadaan pendapat, berebut pengaruh di dalam berdemokrasi dibolehkan, tetapi seharusnya dilakukan dengan cara-cara santun dan bukan dengan menghujat, memfitnah bahkan sampai dilacak data pribadinya.

Menanggapi hal tersebut TAPSI mengingatkan aktivitas pengungkapan data pribadi adalah tindakan melanggar hukum dan hanya boleh dilakukan oleh Aparat Penegak Hukum, pelaku bisa dikenakan pasal 65 ayat (2) Jo. Pasal 67 ayat (2) UU PDP tentang larangan pengungkapan data pribadi orang lain secara melawan hukum, ancaman pidananya 4 tahun penjara, selain itu Undang-Undang No 19 Tahun 2016 pasal 45 ayat 3 juga menjelaskan bahwa barangsiapa sengaja menyebarkan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan membuat citra orang lain rusak maka mereka akan terancam dengan hukuman penjara maksimal 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750 juta.

“TAPSI meminta Aparat Penegak Hukum wajib bertindak represif kepada pengguna sosmed yang telah melakukan ujaran kebencian kepada pengamat sepakbola apalagi pengguna sosial media tersebut sampai mengintersepsi data pribadinya, berbeda pendapat silahkan tapi dengan cara elegan bukan melakukan perundungan hingga berusaha melakukan pembunuhan karakter di sosmed” tutup TAPSI