Gempa 7,7 SR Guncang Flores, Manggarai Catat 24 Jiwa Melayang, Reo Paling Parah

 

Manggarai – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga malam hari, tim Posko Bencana BPBD Kabupaten Manggarai mencatat sedikitnya 24 warga meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan ratusan orang harus mengungsi.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun BPBD Manggarai, selain 24 korban jiwa, tercatat pula 8 orang mengalami luka berat dan 14 orang luka ringan. Jumlah pengungsi hingga saat ini mencapai 165 jiwa yang tersebar di sejumlah titik pengungsian. Kecamatan Reo menjadi wilayah dengan dampak paling berat, dengan 13 korban meninggal dunia lebih dari separuh total korban jiwa se-Kabupaten Manggarai. Angka ini menegaskan betapa parahnya guncangan yang dirasakan warga di kawasan pesisir utara Manggarai itu.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa seluruh angka yang dirilis masih bersifat sementara, mengingat proses pendataan, evakuasi, dan asesmen kerusakan di lapangan masih terus berjalan. BPBD mewanti-wanti masyarakat agar tidak buru-buru menyimpulkan jumlah korban akhir hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, karena situasi pascabencana masih sangat dinamis.

Di sisi lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa hingga pukul 14.00 WIB, lembaganya telah mencatat 235 kali gempa susulan dengan kekuatan berkisar magnitudo 2,5 hingga 6,2, yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah utara Pulau Flores. Menurutnya, aktivitas gempa tersebut belum menunjukkan tanda-tanda peluruhan yang signifikan.

BMKG memperkirakan proses peluruhan alami gempa susulan ini baru akan terjadi dalam kurun waktu sekitar dua hingga tiga minggu ke depan, dengan mengacu pada pola rekaman gempa merusak yang pernah terjadi di Maluku Utara. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak, termasuk Manggarai, diminta untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dalam beberapa pekan mendatang, meski BMKG menegaskan kekuatan gempa susulan pada umumnya akan terus mengecil seiring waktu.

Di lapangan, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan Basarnas terus bergerak melakukan evakuasi korban, penanganan warga luka, serta pemeriksaan kondisi bangunan dan fasilitas umum yang rusak akibat guncangan. Fokus utama saat ini diarahkan pada penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta percepatan verifikasi data kerusakan dan korban di seluruh wilayah terdampak.

Penulis/Editor: MA