*BANJARNEGARA*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah merupakan program pemerintah pusat, bahkan Program tersebut termasuk Program Strategis Nasional ( PSN ) yang memiliki tujuan yang sangat lah mulia “sehingga dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan program tersebut juga dapat menumbuh kembangkan UMKM yang tersebar di seluruh Daerah dan pelosok tanah air.
Namun ironisnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) terkadang oleh sebagian oknum operator dijadikan sebagai lahan bisnis strategis,guna kepentingan pihak pihak tertentu, sehingga program yang semulanya memiliki tujuan mulia akhirnya kurang diperhatikan tentang kualitas menu yang ada,
Hal tersebut sangat dirasakan oleh seseorang, penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sebuah Sekolah di Desa Somawangi Kec Mandiraja Kabupaten Banjarnegara Jawa tengah.
Salah satu penerima manfaat MBG yang enggan menyebutkan namanya saat bertemu wartawan mengungkapkan keluhan ny tentang menu soto yang di terimanya pada Kamis (8/1/2026).
Menurutnya menu yang diterimanya dinilai “tidak ada rasa”.alias hambar.dan pihak juru masak ataupun koki dapur MBG yang berada di desa somawangi dalam memasak menu soto diduga asal asalan dan tanpa berpedoman pada resep masakan.
Dengan demikian hal ini banyak dikeluhkan penerima manfaat MBG desa somawangi tersebut bahkan apa yang dialami penerima manfaat tersebut akhirnya memicu rasa penasaran bagi tim wartawan bahkan menurut narasumber bahwa kwalitas menu tidak sama bahkan tidak sepadan dengan gambar menu program pemenuhan gizi yang di gembar gemborkan.
Selanjutnya dilokasi yang berbeda kamis (8/1/2026.). salah seorang penerima manfaat yang meminta agar tidak disebutkan namanya dengan dialeg bahasa Jawa kepada wartawan mengatakan *parah Soto ne anyep, Ra ana rasa, malah pait rasa tauge tok. ( Parah Sotonya anyep, tidak ada rasa, “rasanya pahit dan cuma rasa tauge saja. “ujarnya.
Selanjutnya,beberapa orang narasumber yang lain, yang juga enggan disebut namanya juga mengatakan “Ini kuahnya pada utuh. katanya mangkok nya suruh dibalikin lagi “jadi ya kuah nya di buang saja.
Ketika Kepala Yayasan Al Husna Tanjung Tirta sebagai pelaksana Di SPPG Desa Somawangi saat di konfirmasi wartawan melalui sambungan telpon dan pesan WhatsApp terkait keluhan beberapa penerima manfaat, ” justru pihak Ketua Yayasan tersebut menanggapi keluhan dengan pernyataan normatif.
Ketua Yayasan yang mengelola SPPG tersebut kepada wartawan mengatakan bahwa “ Untuk rasa mungkin relatif, dan apabila penerima manfaat merasa ada sesuatu yang membahayakan silahkan mengadu ke SPPG yang bersangkutan ” “ujarnya singkat.
Jawaban pihak kepala yayasan tersebut saat di konfirmasi wartawan terkesan bahwa pihak ketua yayasan MBG desa Somawangi diduga sangat egois dan diduga tidak mau menerima kritikan
Lebih lanjut,N selaku pemilik yayasan juga mempersilahkan kepada awak media bahwa, ” Apabila akan memberitakan sesuai dengan narasumber dan fakta yang ada, yang dapat dipertanggung jawabkan “imbuh N
Pernyataan tersebut terkesan defensif dan mengabaikan substansi keluhan Pasalnya, program MBG menggunakan anggaran publik dan menyasar kelompok rentan, sehingga kualitas makanan termasuk rasa dianggap tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan selera pribadi. Apabila penerima manfaat sampai mengeluh, berarti ada yang perlu dievaluasi. “Jangan berlindung di kata ‘relatif’,”
Hingga berita ini diturunkan, pihak yayasan belum menjelaskan apakah akan ada perbaikan resep atau tidak, .”karena sudah beberapa kritikan dan masukan dari beberapa pihak baik warga maupun awak media tak digubrisnya.
Red tim One